logo
DAFTAR

20 Tahun Hari Komik dan Animasi Nasional: Momentum Peringatan Dengan Segala Pro dan Kontra

Bro sis, tahu nggak kalau tanggal 12 Februari ini diperingati sebagai Hari Komik dan Animasi Nasional? Meskipun bukan termasuk hari libur resmi, Hari Komik dan Animasi Nasional tetap merupakan hari yang penting karena menjadi momen perayaan perkembangan industri kreatif Indonesia, terutama dalam bidang komik dan animasi.

Bro sis tahu juga nggak, kalau tahun 2018 ini bertepatan dengan 20 tahun sejak ditetapkannya Hari Komik dan Animasi Nasional pertama kalinya di tahun 1998 lalu! Nah, kalau bro sis masih belum akrab dengan Hari Komik dan Animasi Nasional, ada baiknya kita kenalan bareng-bareng yuk!

Momen Peringatan

Komik Indonesia usianya sudah sangat tua loh, bro sis. Eksistensinya bahkan bisa ditelusuri sebelum kemerdekaan Indonesia loh! Put On tercatat sebagai komik Indonesia pertama, yang terbit di majalah Sin Po sejak 17 Januari 1931. Sang komikus, Kho Wan Gie, menggambar komik Put On di majalah Sin Po hingga majalahnya tutup di masa penjajahan Jepang. Selepas Indonesia merdeka, Put On kembali terbit di tahun 1947, kali ini di majalah Pantja Warna.

Nah, sejak kemerdekaan Indonesia, kita juga punya masa booming komik di era kakek-nenek kita. Pada periode tahun 70-80an, ada banyak banget komik Indonesia bertema superhero. Inspirasinya siapa lagi kalau bukan karakter superhero asal Amerika. Layaknya di negeri Paman Sam dimana komik bisa dibeli di loper koran, industri komik Indonesia saat itu juga memiliki ambisi yang sama.

Walhasil, kini kita mengenal banyak tokoh superhero Indonesia klasik macam Gundala, Godam, dan masih banyak lagi. Nama-nama komikus seperti R.A. Kosasih, Hasmi, MAN, dan Jan Mintaraga menjadi tokoh yang berhasil mempopulerkan komik-komik Indonesia hingga membekas di benak masyarakat luas.

Namun, hingga penghujung milenium, nampak belum ada momen untuk mengenang dan menghargai jasa-jasa para komikus yang berhasil memajukan industri kreatif Indonesia. Apalagi di tahun 90-an, komik Indonesia sedang redup-redupnya karena masuknya beragam komik impor dari luar negeri. Sesuatu harus dilakukan.

Nah, inilah yang ada di benak Dirjen Kebudayaan Depdiknas saat itu, Ibu Edi Sedyawati. Pada tanggal 6 sampai 12 Februari 1998, diadakan acara Pekan Komik dan Animasi Nasional di Galeri Nasional, Jakarta. Di acara itu, ibu Edi mengusulkan agar ditentukan sebuah hari sebagai momen peringatan bagi komik dan animasi, dan dijadikan sebuah gerakan nasional yang diperingati tiap tahunnya. Akhirnya dipilihlah tanggal 12 Januari 1998 sebagai Hari Komik dan Animasi Nasional, yaitu hari terakhir dari Pekan Komik dan Animasi Nasional tahun itu.

Menuai Berbagai Pendapat

Di masa-masa mendatang sejak dicanangkannya Hari Komik dan Animasi Nasional, sayangnya masih belum banyak masyarakat yang mengetahui adanya gerakan nasional tersebut. Dua masalah utamanya adalah masih kuatnya hegemoni komik-komik dan animasi impor, dan sedikitnya sosialisasi dari pemerintah.

Namun, seiring makin berkembangnya komik Indonesia di tahun 2000-an, perhatian akan Hari Komik dan Animasi Nasional menjadi semakin besar. Industri komik dan animasi Indonesia semakin besar tiap tahunnya, dan prestasi para kreator pun mulai diakui baik di dalam maupun luar negeri. Gerakan untuk kembali menggalakkan Hari komik dan Animasi Nasional pun disuarakan oleh para kreator.

Meski demikian, pemilihan tanggal 12 Februari sebagai Hari Komik dan Animasi Nasional ini menuai kritikan. Menurut komikus senior Beng Rahadian, ada dua alasan mengapa Hari Komik dan Animasi Nasional ini dirasa kurang tepat. Pertama, tanggal 12 Februari dirasa kurang memiliki nilai historis. Bagi Beng, ada momen lain yang bisa digunakan sebagai momen peringatan, misalnya bertepatan dengan tanggal terbit perdana komik Put On atau tanggal lahir R.A. Kosasih.

Alasan kedua yang dikemukakan oleh Beng adalah tidak tepat apabila komik dan animasi nasional diperingati di hari yang sama. “Yang perlu ditanyakan mengapa digabungkan. Animasi kan punya sejarah sendiri, siapa tokohnya dan menurut aku sih semuanya itu kembali ke historis dan periode sejarahnya,” begitulah pendapat Beng dalam wawancaranya bersama Detik yang terbit di tanggal 12 Februari 2016.

Pendapat lain dikemukakan oleh Sekjen Masyarakat Komik Indonesia, Widiono Susanto. Baginya, pro dan kontra merupakan hal yang biasa. Dibanding konteks sejarah, ia lebih menekankan aspek awareness; bagaimana masyarakat mengetahui tentang komik dan animasi lokal, serta latar belakang pencanangan gerakan nasional tersebut.

Berkembang Pesat

Ada banyak pendapat berseliweran tentang Hari Komik dan Animasi Nasional. Masing-masing pihak memiliki argumen yang masuk akal. Meski terdapat banyak suara tentang gerkan nasional tersebut, komik dan animasi Indonesia terus melaju dan berkembang pesat. Dalam rentang 20 tahun saja sejak Hari Komik dan Animasi Nasional perdana di tahun 1998 lalu, komik dan animasi nasional sudah meraih berbagai prestasi loh, bro sis!

Di tahun 1998 lalu, komik Indonesia nampak “tersisihkan” dari toko buku besar. Kini, komik Indonesia bisa bro sis jumpai di berbagai etalase toko buku. Bersanding sejajar dengan komik impor, dan bahkan dipromosikan lebih gencar dibanding komik impor itu sendiri.

Untuk menerbitkan komik pun, sekarang nggak harus dicetak. Berkat bantuan internet, komikus indie Indonesia bisa menemukan pembaca mereka dengan mudah; tanpa batasan jarak dan waktu. Wadah untuk menampung komikus web ini pun beragam; mulai dari menerbitkan sendiri via medsos atau lewat website komik seperti CIAYO Comics, hehehe.

Animasi Indonesia pun mengalami perkembangan yang mengagumkan. Kalau dulu televisi lokal biasa menayangkan animasi buatan Amerika, Eropa, atau Jepang, kini animasi Indonesia mulai mendominasi. Nggak cuma punya cerita menarik, namun juga menampilkan presentasi visual yang memukau. Apa bukti animasi Indonesia memiliki tajinya? Lihat saja film Si Juki yang berhasil meraih 630 ribu penonton, mengalahkan film Rafathar yang hanya mampu menjaring 400 ribuan penonton saja. Lalu lihat juga animasi Zak Storm, yang merupakan co-production antara studio animasi Indonesia, Prancis, Korea Selatan, dan Amerika.

Situasi industri komik dan animasi lokal saat ini sudah jauh lebih baik dibanding 20 tahun lalu, namun jalan untuk meraih kedigdayaan masih panjang. Masih ada banyak PR yang harus dibereskan sebelum komik dan animasi Indonesia bisa memiliki pengikut yang besar dan militan layaknya komik dan animasi impor. Semua itu kini bergantung pada diri kita sendiri, bro sis. Komik dan animasi Indonesia sudah banyak banget, dengan beragam genre dan gaya ilustrasi. Bro sis tertarik nggak untuk mencobanya?

Selamat Hari Komik dan Animasi Nasional ke-20!

Sumber : https://blog.ciayo.com/news/20-tahun-hari-komik-dan-animasi-nasional/

Comments are closed.
Poliseni news INFO
Semua hal, kegiatan, pengumuman, dan lainnya, bisa kamu lihat secara up to date dari Poliseni news
Lihat Semua
KONTAK
ingin tau lebih tentang Poliseni? kamu bisa hubungi alamat dibawah
  • (0274) 4464892
  • poliseni_yogya@yahoo.com
Agenda Mendatang

There are no upcoming events at this time.